Sabtu, 06 Desember 2008

Ketika peluru mengarah kepadamu







Telah berkali-kali saya mengunjungi museum Dirgantara TNI AU di Jogja.


Berisi puluhan pesawat terbang yg pernah dimiliki Indonesia. Tetap saja koleksi yg paling hebat adalah sebuah pesawat pembom strategis TU-16 buatan pabrik pesawatTupolev Rusia. Pesawat ini dibeli Indonesia dalam rangka persiapan merebut kembali Irian Barat tahun 60-an. Seingat saya di majalah Angkasa pernah ditulis, Indonesia adalah salah satu negara di luar Rusia yg pertama-tama diijinkan membeli pesawat ini. Terlihat begitu besar dan garang terparkir dipelataran museum dengan 2 rudal besar di cantelan sayapnya. Bisa dibayangkanberapa ton bom yg bisa diangkutnya mengingat pesawat segede itu memang hanya digunakan untuk membawa bom dan rudal. Konon salah satu yang menyebabkan Belanda pilih angkat kaki dari Irian tanpa terjadi perang terbuka adalah setelah mengetahui Indonesia memiliki 2 skadron (24 pesawat) TU-16 ! Entah bagaimana para penerbang Indonesia di tahun 60-an sudah memiliki kemampuan menerbangkan pembom raksasa ini. Sekedar catatan, Indonesia tidak pernah lagi memiliki pembom strategis pasca TU-16. Memang kita memiliki F-16 dari AS, tetapi itu adalah pembom tempur taktis yg ukurannya tidak ada apa-apanya denganTU-16.

Di dalam gedung museum, koleksi lain yg cukup menarik adalah deretan pesawat eks PD II, MIG 17 - 21 buatan Rusia, juga reruntuh pesawat DakotaIndonesia yg ditembak Belanda saat membawa obat-obatan dari Burma. Juga diorama yg menggambarkan operasi Trikora dalam perebutan Irian.

Sejenak saya termenung di sebuah papan marmer bertuliskan berpuluh-puluh nama prajurit/sukarelawan yang gugur di Irian. Ah siapakah ini, anak-anak muda yg rela meninggalkan keluarga, orang tua, pacar, istri, untuk menuju suatu tempat di mana akhirnya mereka kehilangan satu-satunya milik mereka yg paling berharga yakni nyawa mereka...mati dalam hutan-hutan sunyi di Irian atas nama nasionalisme, cinta tanah air dan bela negara yang barangkali terdengar absurd di jaman kita yang hedonis ini.

Perasaan respek dan hormat menyelimuti saya memandang deretan nama tersebut. Barangkali seperti yg diucapkan prajurit AS dalam film "Blackhawk Down" yang diambil dari kisah nyata pertempuran di Somalia, "Ketika sebuah peluru telah mengarah kepadamu, maka politik dan segalanya ini tidak berarti lagi. Semua telah berakhir"...Dan kini mereka semua telah berakhir, tinggal deretan nama di papan marmer...

Tidak ada komentar: