Kamis, 11 Desember 2008

Infantri Mekah - Arafah




(Lanjutan dari edisi sebelumnya) 3rd
Berkali-kali saya membetulkan kain ihram di punggung. Tiap kali tersingkap, angin dingin menyiksa badan. Sebenarnya saya membawa perlengkapan lengkap untuk menghadapi hawa dingin dan kondisi medan di Arab. Persiapan yang baik akan membawa hasil yang baik. Begitu kalimat yang saya cuplik dari komik Donal Bebek yang mengisahkan persiapan Paman Gober akan menyelam ke dasar laut untuk mengambil harta karun.

Dan dengan cermat saya mempersiapkan segala sesuatunya: Jaket from Eiger. Sandal gunung from Eiger. Topi. Pisau multifungsi. Ransel. All from Eiger. Tak ketinggalan, senter kecil. Penjaga tokonya bahkan mengira saya akan naik gunung saat memborong perlengkapan itu.

Tapi dalam perjalanan untuk wukuf, hanya 2 lembar kain ihram, sandal, dan ransel yang saya pakai. Tanpa baju dalam, celana pendek, maupun celana dalam. Memang begitu tuntunannya. Awalnya sih risih...saya harus melilitkan erat-erat kain ihram agar tidak mudah copot saat dipakai berjalan, memastikan alutsista (alat utama sistem senjata) tetap berada di tempatnya dengan nyaman...

Ya, akhirnya saya dan istri memutuskan menggunakan mode masiyan (infantri alias jalan kaki) Mekah-Arafah. Sebelumnya dokter biro perjalanan memeriksa kami satu-satu untuk memastikan peserta masiyan betul-betul fit dan sehat.

Kira-kira berenampuluh lebih peserta yang memilih jalan kaki. Diawali briefing, pukul 19.30 malam kami mulai berjalan meninggalkan Mekah menuju arafah. Dokter dan pemandu mendampingi. Rutenya adalah Mekah-Mina-Arafah-Mina. Masing-masing kami menenteng perbekalan (pakaian, perlengkapan pribadi, dll) yang akan digunakan selama 4 hari di Mina dan Arafah. Di dua tempat tersebut peserta akan menginap di tenda, jadi setiap orang harus membawa perlengkapannya masing-masing.

Rencananya, kami akan berhenti sejenak di Mina untuk menaruh sebagian besar perbekalan. Karena di Arafah hanya sehari dan langsung kembali ke Mina. Awalnya sih perjalanan santai. Seperti sebuah rombongan karnaval, kami beranjak meninggalkan Mekah sambil melihat-lihat kondisi kota.

Tetapi setelah 2-3 jam, stamina mulai terkuras. Ransel di pundak terasa makin berat. Saat melewati terowongan Muasyin di Mina, angin berhembus luar biasa kencang. Terowongan itu panjang sekali, rasanya tidak habis-habis. Barangkali lebih dari 1 km. Dan angin dingin yang menderu-deru menusuk tulang ditambah beban berat di punggung mulai menggerogoti stamina. Dengan memiringkan tubuh ke depan kami maju terus menembus angin. Tiba-tiba saya menyadari, betapa seriusnya perjalanan ini..

Tiba di Mina, suasana sudah sangat ramai dengan lautan manusia. Rombongan sempat kesulitan menemukan tenda jatah kami. Setelah istirahat sejenak, kami segera bergegas. Sebab perjalanan masih panjang, masih 20-an km lagi ke Arafah ! Keluar dari Mina saja suatu perjuangan sendiri untuk menembus lautan manusia yang berjubel. Rombongan berpatokan pada pembawa bendera di depan. Ajaibnya (alhamdulillah), tidak ada yang tersesat, padahal seringkali anggota rombongan tercerai berai karena padatnya arus manusia.

Selepas itu, jalanan lebih lengang. Sebenarnya secara medan tidaklah terlalu berat. Jalanan lebar dan datar, seperti jalan tol khusus untuk pejalan kaki. Tetapi stamina yang telah terkuras di etape Mekah-Mina dan tubuh yang masih menyesuaikan cuaca setempat membuat perjalanan ini terasa berat. Kontur jalan yang datar, lingkungan yang gersang tanpa pohon-pohon membuat pandangan bebas sampai ke cakrawala. Sejauh mata memandang sampai kaki langit, jalanan seperti tiada ujung. Sedikit banyak itu mempengaruhi psikis kami. Kami telah menempuh jarak berkilo-kilo tetapi rasanya tidak sampai-sampai. Dan kami terus maju, maju...(bersambung)

Leadership




(lanjutan edisi sebelumnya) 2nd
Dalam rangkaian haji, ada sebuah ritual yang dinamakan wuquf di Arafah. Yakni jamaah haji menuju padang Arafah untuk berdiam diri dan berdoa sampai waktu magrib tiba. Ini dilakukan secara serentak. Maka pada tanggal tsb seluruh jamaah bergerak dari Mekah, melewati Mina, ke Arafah. Mekah – Arafah kurang lebih berjarak 25 km. Usai magrib, jamaah kembali bergerak ke Mina. Inilah salah satu etape paling dramatis yang kami alami.

Untuk menuju Arafah, terdapat 2 pilihan: naik bus (istilahnya raqiban) atau berjalan kaki (masiyan). Masiyan memang tidak terlalu populer bagi jamaah haji Indonesia. Beberapa rekan yang pernah naik haji merekomendasikan masiyan karena lebih kental nuansa spiritual dan pahalanya. Pihak biro travel memfasilitasi keduanya.

Sampai hari keberangkatan ke Arab, bahkan menjelang pelaksanaan wukuf, saya belum bisa memutuskan cara apa yang akan dipilih. Sejak sebelum berangkat istri menginginkan masiyan, tetapi menyerahkan sepenuhnya keputusan di tangan saya. Masiyan mungkin lebih ‘full petualangan’, full pahala, tapi jarak yang ditempuh tidak main-main: pp 50 km jalan kaki ! Diperlukan fisik yang benar-benar bugar. Sementara persiapan fisik saya & istri sebelum haji tidaklah intens. Saya hanya olah raga ringan semingu 3-4 kali.

Meski di sisi lain, masiyan juga ada keuntungan teknisnya yakni waktu tempuh lebih bisa diprediksi (info penyelenggara, meski hanya 25 km, bila menggunakan bus waktu tempuh bisa 8-9 jam, bahkan lebih, karena pasti macet). Bagi istri saya yg hamil, berada di bus begitu lama tentu menyulitkan apalagi kalau harus sering-sering ke toilet. Bila berjalan kaki, konon di sepanjang perjalanan terdapat fasilitas toilet dan air minum yang sangat cukup.

Jadi pilih mana, naik bus atau jalan kaki ? Duh, begini sulitnya jadi pemimpin...saya jadi ingat soal kepemimpinan di film “K 365 “. Kisahnya berlatar perang dunia II. Sebuah kapal perang Sekutu ditugaskan menyergap kapal selam Jerman yang sedang naik ke permukaan laut. Misinya adalah merebut Enigma -alat pembuat kode komunikasi- di kapal itu. Melalui penyamaran yang cerdik (& licik) penyergapan berlangsung sukses. Kapal selam Jerman berhasil dikuasai, Enigma didapat. Nampaknya misi akan berakhir gilang gemilang: mereka tinggal kembali ke kapal dan pulang ke pelabuhan Sekutu. Tapi sebuah bencana besar memupus itu semua. Saat masih di sekoci menuju kapal, tiba-tiba kapal perang Sekutu meledak dan terbakar hebat. Dan dalam sekejap, hujan peluru di mana-mana. Olala, apa yang terjadi ?

Rupanya tanpa diketahui prajurit Sekutu, sebuah kapal perang Jerman lain muncul di situ dan men-torpedo kapal Sekutu. Korban berjatuhan, termasuk komandan kapal Sekutu. Tiada pilihan, prajurit Sekutu yang tersisa berusaha secepat mungkin kembali ke kapal selam Jerman yang barusan mereka sergap dan sudah dikosongkan. Mereka cepat-cepat menyelam untuk menghindari bom laut Jerman.

Karena komandan pasukan tewas, pimpinan pasukan jatuh ke pangkat level berikutnya. Sebut saja Letnan X. Sebenarnya ada yang lebih senior, seorang veteran, sebut saja pelaut Y, tapi menolak jadi pimpinan. Terguncang oleh pupusnya kemenangan yang sudah di depan mata yang berbalik menjadi kekalahan dan terlebih-lebih karena tewasnya komandan mereka yang sangat mereka segani, sisa prajurit yang nyaris putus asa menghadap Letnan X, dan bertanya: apa yang harus mereka lakukan ? Mereka seperti sekumpulan anak ayam yang kehilangan induk. Di atas mereka kapal Jerman terus menghujani dengan bom laut dalam. Dan mereka berada di kapal selam Jerman yang asing. Apa jawaban Letnan X ? Sama terguncang dan putus asanya, ia menjawab:
”Kau kira aku punya semua jawaban ? Aku juga tidak tahu.. !”

Pelaut Y segera mengajak Letnan X bicara empat mata.
”Engkau akan membuat kita semua terbunuh !. Tidak peduli tahu atau tidak, jangan pernah lagi berkata di depan anak buahmu bahwa engkau tidak tahu.. !”

That’s leadership. Seringkali yang dibutuhkan anak buah adalah sebuah keyakinan, keyakinan bahwa sang pemimpin akan menuntun mereka ke tujuan, memberikan arah, memberikan pengayoman. Mereka tidak selalu butuh diajari akan tugas-tugasnya karena mereka sudah ahli, bahkan bisa jadi lebih ahli dibanding sang pemimpin !

Pemimpin tidak boleh ragu-ragu memutuskan meski mungkin saja di kemudian hari keputusan tersebut ternyata tidak tepat. ”I’m ever wrong, but never in doubt ”. (Mungkin saya pernah salah, tapi tidak pernah ragu-ragu). Begitu kata pepatah yang saya dengar di radio.

Pemimpin adalah individu yang make things happen. Pemimpin efektif bukanlah selalu seseorang yang dipuja atau dicintai, namun mereka adalah individu yang menjadikan para pengikutnya berbuat benar. Kepemimpinan berbeda dengan popularitas. Kepemimpinan identik dengan pencapaian hasil (Peter Drucker)

Mendengar wejangan si Pelaut, si Letnan segera bangkit dari keterpurukannya. Perintah-perintah segera mengalir deras ke anak buahnya dengan penuh keyakinan: menambal kebocoran kapal, menyiapkan senjata dan torpedo, mengatur kedalaman penyelaman, demi melawan kapal Jerman di atas mereka...

Namun, meski sudah pernah membaca dan melihat itu semua, di sini, menjelang Arafah, saya masih bingung memutuskan mode perjalanan yang akan dipilih: raqiban atau masiyan. Pihak biro perjalanan sudah wanti-wanti, bila memutuskan berjalan kaki, maka itu berarti ‘point of no return’. Artinya bila di tengah jalan tidak kuat, maka pihak penyelenggara tidak akan bisa mengevakuasi menggunakan kendaraan. Hal ini karena jalur pejalan kaki dan bus berbeda, tidak ada kendaraan yang diperkenankan lewat jalur pejalan kaki kecuali ambulans dan polisi. Janji yang betul-betul ‘ditepati’ penyelenggara kemudian......Dan sebuah petualangan yang tak akan saya lupakan telah menanti di depan....(bersambung)

Rabu, 10 Desember 2008

Mission accomplished





1st edition

Bandara King Abdul Aziz Jeddah, menjelang tengah malam di Januari 2007.

Saya menyandarkan diri ke bangku panjang di ruang tunggu. Menunggu pesawat yang akan membawa kembali ke tanah air. Ruang tunggu sangat ramai, penuh jamaah haji dari berbagai negara. Suasana santai, ada yang tidur-tiduran, ngobrol atau ngemil. Akhirnya selesai juga perjalanan ini. “Mission accomplished” bisik saya pada istri di samping. (Belakangan harus saya ralat. Mestinya “The adventure will be continued”. Dalam penerbangan pulang, pesawat kami dihadang cuaca buruk sebagaimana telah diumumkan pilot sebelumnya. Pesawat terguncang-guncang. Berkali-kali. Bermenit-menit. Di tengah tragedy Adam air yang lamat-lamat beritanya sampai ke kami, tentu ini suatu ketegangan tersendiri…)

Tiga minggu kami telah mengalami berbagai hal. Dengan tekad “Menjadikan setiap perjalanan petualangan yang mengesankan” (tentu saja di samping pahala juga), kami telah memperoleh lebih dari yang kami harap: ‘Lost in Arafah’. ‘Transportation teror’ di Mina. Rendezvous di Mekah. Tragedi handphone. Dll. Plus bonus: setelah 10 tahun perkawinan, pergi berdua saja dengan pasanganmu untuk jangka waktu yang lama, niscaya akan memberimu pengalaman berbeda. You should try it, guys !


Ya, tiga minggu lalu kami tiba di bandara ini dengan suasana jauh berbeda. Letih karena penerbangan non stop 9 jam dari Jakarta. Tegang karena inilah “when dream come true”. Sebagaimana umat Islam lain, kami telah mengidam-idamkan perjalanan ini begitu lama. Kami agak terkejut ketika mendapati bandara kelas internasional ini begitu bersahaja. Lantai semen dengan bangku-bangku keras. Kami digiring, berjajar-jajar, dari satu pemeriksaan ke pemeriksaan lain. Imigrasi dan semacamnya. Saya sempat berpikir, wah kok kita seperti tawanan ya ? (Info yang saya bahwa memang lokasi tsb khusus untuk penerimaan jamaah haji. Mungkin karena saking banyaknya jamaah haji, semua fasilitas dibuat sederhana).Petugas dari Arab sebagian berlaku ramah dan mencoba mengajak kami bertegur sapa. Tapi lebih banyak lagi yang menatap kami dengan tajam, terutama kepada jamaah wanita kami, membuat kami jengah....(bersambung)

Sabtu, 06 Desember 2008

Ketika peluru mengarah kepadamu







Telah berkali-kali saya mengunjungi museum Dirgantara TNI AU di Jogja.


Berisi puluhan pesawat terbang yg pernah dimiliki Indonesia. Tetap saja koleksi yg paling hebat adalah sebuah pesawat pembom strategis TU-16 buatan pabrik pesawatTupolev Rusia. Pesawat ini dibeli Indonesia dalam rangka persiapan merebut kembali Irian Barat tahun 60-an. Seingat saya di majalah Angkasa pernah ditulis, Indonesia adalah salah satu negara di luar Rusia yg pertama-tama diijinkan membeli pesawat ini. Terlihat begitu besar dan garang terparkir dipelataran museum dengan 2 rudal besar di cantelan sayapnya. Bisa dibayangkanberapa ton bom yg bisa diangkutnya mengingat pesawat segede itu memang hanya digunakan untuk membawa bom dan rudal. Konon salah satu yang menyebabkan Belanda pilih angkat kaki dari Irian tanpa terjadi perang terbuka adalah setelah mengetahui Indonesia memiliki 2 skadron (24 pesawat) TU-16 ! Entah bagaimana para penerbang Indonesia di tahun 60-an sudah memiliki kemampuan menerbangkan pembom raksasa ini. Sekedar catatan, Indonesia tidak pernah lagi memiliki pembom strategis pasca TU-16. Memang kita memiliki F-16 dari AS, tetapi itu adalah pembom tempur taktis yg ukurannya tidak ada apa-apanya denganTU-16.

Di dalam gedung museum, koleksi lain yg cukup menarik adalah deretan pesawat eks PD II, MIG 17 - 21 buatan Rusia, juga reruntuh pesawat DakotaIndonesia yg ditembak Belanda saat membawa obat-obatan dari Burma. Juga diorama yg menggambarkan operasi Trikora dalam perebutan Irian.

Sejenak saya termenung di sebuah papan marmer bertuliskan berpuluh-puluh nama prajurit/sukarelawan yang gugur di Irian. Ah siapakah ini, anak-anak muda yg rela meninggalkan keluarga, orang tua, pacar, istri, untuk menuju suatu tempat di mana akhirnya mereka kehilangan satu-satunya milik mereka yg paling berharga yakni nyawa mereka...mati dalam hutan-hutan sunyi di Irian atas nama nasionalisme, cinta tanah air dan bela negara yang barangkali terdengar absurd di jaman kita yang hedonis ini.

Perasaan respek dan hormat menyelimuti saya memandang deretan nama tersebut. Barangkali seperti yg diucapkan prajurit AS dalam film "Blackhawk Down" yang diambil dari kisah nyata pertempuran di Somalia, "Ketika sebuah peluru telah mengarah kepadamu, maka politik dan segalanya ini tidak berarti lagi. Semua telah berakhir"...Dan kini mereka semua telah berakhir, tinggal deretan nama di papan marmer...