(Lanjutan dari edisi sebelumnya) 3rd
Berkali-kali saya membetulkan kain ihram di punggung. Tiap kali tersingkap, angin dingin menyiksa badan. Sebenarnya saya membawa perlengkapan lengkap untuk menghadapi hawa dingin dan kondisi medan di Arab. Persiapan yang baik akan membawa hasil yang baik. Begitu kalimat yang saya cuplik dari komik Donal Bebek yang mengisahkan persiapan Paman Gober akan menyelam ke dasar laut untuk mengambil harta karun.
Dan dengan cermat saya mempersiapkan segala sesuatunya: Jaket from Eiger. Sandal gunung from Eiger. Topi. Pisau multifungsi. Ransel. All from Eiger. Tak ketinggalan, senter kecil. Penjaga tokonya bahkan mengira saya akan naik gunung saat memborong perlengkapan itu.
Tapi dalam perjalanan untuk wukuf, hanya 2 lembar kain ihram, sandal, dan ransel yang saya pakai. Tanpa baju dalam, celana pendek, maupun celana dalam. Memang begitu tuntunannya. Awalnya sih risih...saya harus melilitkan erat-erat kain ihram agar tidak mudah copot saat dipakai berjalan, memastikan alutsista (alat utama sistem senjata) tetap berada di tempatnya dengan nyaman...
Ya, akhirnya saya dan istri memutuskan menggunakan mode masiyan (infantri alias jalan kaki) Mekah-Arafah. Sebelumnya dokter biro perjalanan memeriksa kami satu-satu untuk memastikan peserta masiyan betul-betul fit dan sehat.
Kira-kira berenampuluh lebih peserta yang memilih jalan kaki. Diawali briefing, pukul 19.30 malam kami mulai berjalan meninggalkan Mekah menuju arafah. Dokter dan pemandu mendampingi. Rutenya adalah Mekah-Mina-Arafah-Mina. Masing-masing kami menenteng perbekalan (pakaian, perlengkapan pribadi, dll) yang akan digunakan selama 4 hari di Mina dan Arafah. Di dua tempat tersebut peserta akan menginap di tenda, jadi setiap orang harus membawa perlengkapannya masing-masing.
Rencananya, kami akan berhenti sejenak di Mina untuk menaruh sebagian besar perbekalan. Karena di Arafah hanya sehari dan langsung kembali ke Mina. Awalnya sih perjalanan santai. Seperti sebuah rombongan karnaval, kami beranjak meninggalkan Mekah sambil melihat-lihat kondisi kota.
Tetapi setelah 2-3 jam, stamina mulai terkuras. Ransel di pundak terasa makin berat. Saat melewati terowongan Muasyin di Mina, angin berhembus luar biasa kencang. Terowongan itu panjang sekali, rasanya tidak habis-habis. Barangkali lebih dari 1 km. Dan angin dingin yang menderu-deru menusuk tulang ditambah beban berat di punggung mulai menggerogoti stamina. Dengan memiringkan tubuh ke depan kami maju terus menembus angin. Tiba-tiba saya menyadari, betapa seriusnya perjalanan ini..
Tiba di Mina, suasana sudah sangat ramai dengan lautan manusia. Rombongan sempat kesulitan menemukan tenda jatah kami. Setelah istirahat sejenak, kami segera bergegas. Sebab perjalanan masih panjang, masih 20-an km lagi ke Arafah ! Keluar dari Mina saja suatu perjuangan sendiri untuk menembus lautan manusia yang berjubel. Rombongan berpatokan pada pembawa bendera di depan. Ajaibnya (alhamdulillah), tidak ada yang tersesat, padahal seringkali anggota rombongan tercerai berai karena padatnya arus manusia.
Selepas itu, jalanan lebih lengang. Sebenarnya secara medan tidaklah terlalu berat. Jalanan lebar dan datar, seperti jalan tol khusus untuk pejalan kaki. Tetapi stamina yang telah terkuras di etape Mekah-Mina dan tubuh yang masih menyesuaikan cuaca setempat membuat perjalanan ini terasa berat. Kontur jalan yang datar, lingkungan yang gersang tanpa pohon-pohon membuat pandangan bebas sampai ke cakrawala. Sejauh mata memandang sampai kaki langit, jalanan seperti tiada ujung. Sedikit banyak itu mempengaruhi psikis kami. Kami telah menempuh jarak berkilo-kilo tetapi rasanya tidak sampai-sampai. Dan kami terus maju, maju...(bersambung)
Dan dengan cermat saya mempersiapkan segala sesuatunya: Jaket from Eiger. Sandal gunung from Eiger. Topi. Pisau multifungsi. Ransel. All from Eiger. Tak ketinggalan, senter kecil. Penjaga tokonya bahkan mengira saya akan naik gunung saat memborong perlengkapan itu.
Tapi dalam perjalanan untuk wukuf, hanya 2 lembar kain ihram, sandal, dan ransel yang saya pakai. Tanpa baju dalam, celana pendek, maupun celana dalam. Memang begitu tuntunannya. Awalnya sih risih...saya harus melilitkan erat-erat kain ihram agar tidak mudah copot saat dipakai berjalan, memastikan alutsista (alat utama sistem senjata) tetap berada di tempatnya dengan nyaman...
Ya, akhirnya saya dan istri memutuskan menggunakan mode masiyan (infantri alias jalan kaki) Mekah-Arafah. Sebelumnya dokter biro perjalanan memeriksa kami satu-satu untuk memastikan peserta masiyan betul-betul fit dan sehat.
Kira-kira berenampuluh lebih peserta yang memilih jalan kaki. Diawali briefing, pukul 19.30 malam kami mulai berjalan meninggalkan Mekah menuju arafah. Dokter dan pemandu mendampingi. Rutenya adalah Mekah-Mina-Arafah-Mina. Masing-masing kami menenteng perbekalan (pakaian, perlengkapan pribadi, dll) yang akan digunakan selama 4 hari di Mina dan Arafah. Di dua tempat tersebut peserta akan menginap di tenda, jadi setiap orang harus membawa perlengkapannya masing-masing.
Rencananya, kami akan berhenti sejenak di Mina untuk menaruh sebagian besar perbekalan. Karena di Arafah hanya sehari dan langsung kembali ke Mina. Awalnya sih perjalanan santai. Seperti sebuah rombongan karnaval, kami beranjak meninggalkan Mekah sambil melihat-lihat kondisi kota.
Tetapi setelah 2-3 jam, stamina mulai terkuras. Ransel di pundak terasa makin berat. Saat melewati terowongan Muasyin di Mina, angin berhembus luar biasa kencang. Terowongan itu panjang sekali, rasanya tidak habis-habis. Barangkali lebih dari 1 km. Dan angin dingin yang menderu-deru menusuk tulang ditambah beban berat di punggung mulai menggerogoti stamina. Dengan memiringkan tubuh ke depan kami maju terus menembus angin. Tiba-tiba saya menyadari, betapa seriusnya perjalanan ini..
Tiba di Mina, suasana sudah sangat ramai dengan lautan manusia. Rombongan sempat kesulitan menemukan tenda jatah kami. Setelah istirahat sejenak, kami segera bergegas. Sebab perjalanan masih panjang, masih 20-an km lagi ke Arafah ! Keluar dari Mina saja suatu perjuangan sendiri untuk menembus lautan manusia yang berjubel. Rombongan berpatokan pada pembawa bendera di depan. Ajaibnya (alhamdulillah), tidak ada yang tersesat, padahal seringkali anggota rombongan tercerai berai karena padatnya arus manusia.
Selepas itu, jalanan lebih lengang. Sebenarnya secara medan tidaklah terlalu berat. Jalanan lebar dan datar, seperti jalan tol khusus untuk pejalan kaki. Tetapi stamina yang telah terkuras di etape Mekah-Mina dan tubuh yang masih menyesuaikan cuaca setempat membuat perjalanan ini terasa berat. Kontur jalan yang datar, lingkungan yang gersang tanpa pohon-pohon membuat pandangan bebas sampai ke cakrawala. Sejauh mata memandang sampai kaki langit, jalanan seperti tiada ujung. Sedikit banyak itu mempengaruhi psikis kami. Kami telah menempuh jarak berkilo-kilo tetapi rasanya tidak sampai-sampai. Dan kami terus maju, maju...(bersambung)
